Posts

Mendefinisikan Keromantisan

Image
Fi, jadi lebih romantis nggak, tinggal di Prancis?   Begitu pertanyaan Mamah Shanty di grup Whatsapp Mamah Gajah Ngeblog. Memang Prancis lekat dengan predikat romantis. Coba cari-cari saja sendiri di Google, atau apalah, search engine kesukaan Anda: "Prancis negara romantis" (ya, dalam bahasa Indonesia!). Sudah ada banyak yang membahasnya. Prancis, Negeri Romantis? Dari hasil pencarian "Prancis romantis", akan banyak yang memunculkan hasil bertema "Paris romantis". Karena memang sebenarnya, untuk lebih tepatnya, Paris lah yang disebut sebagai kota romantis.  Paris ville de l'amour ....  Paris Kota Cinta.  Amour (dengan A kapital) atau amour ? Itu sudah bisa jadi bahan diskusi yang panjang. Yang jelas,  Prancis sebagai negaranya, ikut numpang romantis lah ya!  Pemerintah Prancis sendiri pun memanfaatkan predikat romantis ini untuk promosi pariwisatanya. Di website dinas pariwisata kita bisa melihat 20 spot romantis di Prancis , alternatif aktivitas r...

La Rentrée Cours Japonais

Image
Dan kursus bahasa Jepang pun dimulai lagi. Kali ini, saya memberanikan diri mendaftar ke level 3 (setara dengan B1). Bukan. Bukan sekedar untuk mengisi kuota seperti yang diminta sensei pada peserta level 2 (setara A1-2/A2) tahun ajaran lalu agar semua kelas tetap bisa diselenggarakan. Tetapi karena saya juga ingin mencobanya.  Memang setiap kelas kursus di Cannes UniversitĂ© ini ada kuota minimalnya. Harus ada paling tidak 12 pendaftar agar kelas tetap diselenggarakan.  Karena itulah dua tahun yang lalu, saat saya level 2, peserta digabung dengan level 3 untuk bisa memenuhi kuota. Namun cara ini tak selalu berhasil. Seperti kelas bahasa Cina-nya Paksu tahun ini. Tak ada cukup pendaftar untuk ketiga level yang dibuka, bahkan dengan menggabungkan ketiga level sekalipun. Akibatnya, kelas dibatalkan! Uang pendaftaran dikembalikan sih. Juga uang keanggotaan. Tapi sayang saja kan, Paksu jadi tak bisa melanjutkan belajar bahasa Cinanya, dan saya tak jadi punya teman pulang kursus ber...

Masalah Airbags Takata

Image
Sejak kembali dari Valenciennes ke Cannes, saya masih belum tenang. Bukan. Bukan karena Butet. Kami masih ber-video call setiap hari, dan dia tampak sudah beradaptasi dengan baik. Saya juga. Heu.... Kalau ada yang mengganjal, itu adalah masalah mobil! Saat masih di Valenciennes, Paksu yang kembali ke Cannes duluan mengabari bahwa ada avis de passage dari La Poste untuk saya. Tak jelas dari siapa, bahkan apakah itu surat atau paket. Meski penasaran, tapi saya menunggu Jumat untuk mengambilnya. Kebetulan prakiraan cuaca memang tidak bagus, minggu itu. Ternyata surat. Dari Volkswagen. Isinya pemberitahuan bahwa mobil kami masuk dalam daftar yang memiliki masalah dengan airbags-nya! Saya sudah sempat mendengar mengenai permasalahan airbags Takata itu sebelumnya. Dalam pengumuman di awal tahun itu, Volkswagen Polo tidak masuk dalam daftar. Namun ternyata program penggantian airbags ini diperluas pada akhir Juli, menyusul terjadinya kecelakaan mobil yang memakan korban jiwa. Saat itu saya ta...

Ketemuan yang Mundur Lagi!

Usaha mencicil utang ketemuan Kamis ini gagal. Bukaaan. Bukan karena adanya pemogokan besar yang terjadi magi di Prancis hari ini. Nggak ngaruh itu mah, ke kami. Meski memang hari ini Palmbus mengumumkan banyak gangguan jadwal. Kali ini pemogokan memang cukup berdampak bagi daerah kami. Kami toh nggak perlu ke mana-mana yang tak bisa diraih dengan jalan kaki juga. Demikian pula Butet di rantaunya yang hanya 500 meter dari kampusnya. Namun untuk Butet pemogokan terasa karena tutupnya kantin CROUS! Food truck yang ada terlalu mahal dan tidak menarik, Butet jadi harus menyiapkan makan siangnya sendiri. Tidak repot sih. Dia sudah biasa membuat stok makanan di kulkasnya. Tinggal mengepaknya saat diperlukan.  Siang tadi, Butet hanya membawa salad, katanya. Salad dengan croutons (roti bakar yang dipotong kecil-kecil) dan potongan filet ayam berbumbu kecap manis. Salad lebih praktis karena tak perlu harus bersabar mengantri microwave di area makan kampus untuk memanaskan bekalnya. Kembali...

Resep Flan Vanila

Image
Dua mingguan yang lalu, saat saya menawari Paksu untuk membuat dessert sendiri, dia meminta flan vanille alias custard tart . Saya lupa konteks tepatnya apa. Sepertinya saya gerah karena dia berulang bilang pengen dessert . Memang belakangan ini dia suka sok-sokan mengurangi makan secara drastis. Hasilnya lekas kelaparan dan malah kabita ga jelas, kan!? Hihihi. Boulangerie yang tinggal nyebrang jelas menggoda. Tapi pastri sudah jelas tak bisa lagi kami konsumsi dengan semena-mena. Seminggu 2 kali sepertinya cukup. Dan tiap kali 1 porsi saja! Lebih sehat untuk badan ... dan juga dompet! Hahaha. Saya langsung meminta Paksu menambahkan bahan untuk membuat flan rasa vanila ini dalam list belanjanya. Ya, Paksu memang masih mempertahankan kebiasaan belanja mingguan meski belakangan saya ikut banyak andil juga. Namun dengan berbagai peristiwa yang terjadi selama seminggu yang mengikuti — yang belum bisa saya tuliskan—flannya baru tereksekusi hari Minggu kemarin ini! Sudah lama sekali s...

Nikmati Saja Prosesnya!

Image
Tak terasa sudah tiga minggu si Butet tinggal sendiri di rantaunya. Saya pun  bergerak : membereskan tas bawaan yang belum dikosongkan juga sampai pagi tadi! Bukan karena melow sih. Tapi merasa tidak perlu saja. Tas pakaian itu dengan antengnya duduk di kursi makan yang sekarang kosong, tak ada yang menggunakan. Ya, lebih karena kemalasan. Yang tentu saja itu tidak lebih baik! Hehehe. Tapi tenang, pakaian yang belum saya keluarkan itu bersih semua kok! Kan saya sempat mencuci baju juga selama menemani Butet di asramanya tuh. Baju-baju kotor sudah saya keluarkan sejak sampai rumah. Dan sudah saya cuci semua. Yang tertinggal di dalam tas hanyalah beberapa helai baju Butet dan kaus kaki saya. Ya, saya pulang membawa baju Butet. Laci pakaiannya tak cukup menampung semua baju yang dibawanya. Gantungan pakaiannya pun tak besar. Karenanya, Butet meminta saya membawa tiga t-shirt dan satu sweater kembali ke Cannes. Memag sepertinya kami harus membeli gantungan baju lagi. Atau bahkan laci t...

Satu Utang Terlunasi

Jumat lalu, saat saya belanja di swalayan, saya bertemu dengan seorang teman. Dia adalah ibu dari adik kelas Butet yang tinggal tak jauh dari rumah kami. Kami sempat berbincang panjang di depan rak tisu kertas sebelum kemudian janjian ketemuan. Kami janjian jam 9 di boulangerie yang tak jauh dari rumah kami. Saya pikir, karena rumah kami searah, kenapa kami tak jalan bareng sekalian? Karenanya, 15 menit sebelum jamnya saya telepon dia. Dan kami pun punya ekstra 10 menit selama jalan santai ke lokasi tujuan. Teman saya itu mentraktir saya. Alasannya karena dia yang mengajak ngopi di luar. Padahal saya juga pengin ketemuan kan!? Dan saya bilang harusnya saya, yang lebih tua, yang mentraktirnya. Tapi dia bersikeras menolak. Saya jadi ingat saat pertama kenal dengannya. Wah, sudah lama sekali. Sudah belasan tahun. Saat itu anak-anak kami masih maternelle. Dia mengungkapkan.rasa senangnya berkenalan dengan perempuan seusianya. Karena si Butet hanya 2 tahun di atas anaknya, dia tak menyangka...