Hari ini, kuncitara ke dua di Prancis dibuka. Dan pemerintah menyarankan karantina mandiri selama seminggu untuk mereka yang ingin berkumpul merayakan Natal bersama keluarga... 🙄
Sebelum liburan ke Indonesia, kami suka mencatat agenda apa saja yang ingin kami lakukan berempat. Kuliner adalah salah satunya. Dan satu kesepakatan hakiki adalah menyantap hidangan kambing di Solo! Ya, di Solo! Bukan hanya karena saya orang Solo nih ya. Namun kami berempat setuju bahwa belum menemukan kota lain yang masakan kambingnya lebih enak, atau bahkan sama enaknya dari yang ada di Solo! Apa yang bisa lebih dipercaya dari lidah anak-anak? Apalagi yang lahir dan besar di rantau, coba? Dari rumah makan kambing terkenal, hingga warung-warung kecil pinggir jalan, semua enak. Seluruh Soloraya. Hmmm... mungkin berlebihan sih ya. Kan jelas saya dengan kriteria kebersihan yang pada dasarnya sudah akut apalagi didukung anak-anak belum pernah mencoba semua tempat makan hidangan kambing. Disclaimer dulu: hampir semua foto masakan kambing yang ada di tulisan ini berasal dari aplikasi GoFood. Saya memilih mengambil ilustrasi dari Sate Kambing Pak Bunder , warung sate yang berlokasi t...
Akhirnya Rabu sore ini saya memilih absen ke kursus bahasa Jepang lagi. Saya absen tadarus dan menyimak kajian Rabu pagi sambil baringan. Makan siang pun kembali memanfaatkan layanan pesan antar. Rasanya terlalu maksa kalau saya malah tetap pergi kursus. Meski sudah jauh lebih enak, nafas saya masih berat. Badan masih lekas lelah. Narasi kyō, musume ga ie ni kaerimashita dari Rabu lalu yang sudah saya siapkan adaptasinya dengan mengganti kyō menjadi senshū no suiyōbi pun batal saya presentasikan. Cukup berat untuk absen lagi. Mengingat bahwa Rabu ini merupakan kursus terakhir sebelum masuk periode libur musim semi selama dua minggu ke depan. Total, saya tidak kursus 4 minggu berturut-turut sebelum masuk lagi 29 April nanti. Insya Allah. Semoga sehat, aamiin. Sambil memasak ayam oven untuk makan malam, saya membuka-buka bahan pelajaran sebelumnya. Bukan, bukan untuk belajar. Saya ingin menyusun kertas-kertas fotokopian dan catatan yang masih lepas ke dalam binde...
Tidak hanya sekali, saat bertemu teman yang lama tak berkontak, atau sebaliknya kenalan baru, yang mengetahui bahwa kami sudah lama tinggal di rantau dan berkomentar, "Wah, betah ya di sana? Gajinya besar, sih!" Atau di sisi lain, saat bertemu dengan sesama penduduk Prancis, ada saja yang berkomentar, "Memang enak di sini, ada banyak tunjangan!" Kedua komentar tidak salah. Tapi tak sepenuhnya benar. Penting dicatat bahwa tulisan ini berdasarkan pengalaman pribadi sebagai imigran biasa, bukan pelajar, PMI, atau ekspatriat yang mendapatkan fasilitas dari perusahaan/instansi. Gaji Besar, Biaya Hidup juga Besar! Orang suka lupa. Suka keblinger dengan nominal angka. Gaji di Eropa, jelas lebih besar ketimbang di Indonesia. Tapi ingat: biaya hidupnya juga setara, yaaa! Saya ingat saat pertama kali datang ke Prancis 25 tahun yang lalu. Gaji masih UMR. UMR Prancis, tentunya ya. Saya lupa saat itu berapa. Saat ini sih UMR kotor 1.801,80 euros. Silakan dirupiahkan sendiri....
Comments
Post a Comment