Hari ini, kuncitara ke dua di Prancis dibuka. Dan pemerintah menyarankan karantina mandiri selama seminggu untuk mereka yang ingin berkumpul merayakan Natal bersama keluarga... 🙄
Sebelum liburan ke Indonesia, kami suka mencatat agenda apa saja yang ingin kami lakukan berempat. Kuliner adalah salah satunya. Dan satu kesepakatan hakiki adalah menyantap hidangan kambing di Solo! Ya, di Solo! Bukan hanya karena saya orang Solo nih ya. Namun kami berempat setuju bahwa belum menemukan kota lain yang masakan kambingnya lebih enak, atau bahkan sama enaknya dari yang ada di Solo! Apa yang bisa lebih dipercaya dari lidah anak-anak? Apalagi yang lahir dan besar di rantau, coba? Dari rumah makan kambing terkenal, hingga warung-warung kecil pinggir jalan, semua enak. Seluruh Soloraya. Hmmm... mungkin berlebihan sih ya. Kan jelas saya dengan kriteria kebersihan yang pada dasarnya sudah akut apalagi didukung anak-anak belum pernah mencoba semua tempat makan hidangan kambing. Disclaimer dulu: hampir semua foto masakan kambing yang ada di tulisan ini berasal dari aplikasi GoFood. Saya memilih mengambil ilustrasi dari Sate Kambing Pak Bunder , warung sate yang berlokasi t...
Tidak hanya sekali, saat bertemu teman yang lama tak berkontak, atau sebaliknya kenalan baru, yang mengetahui bahwa kami sudah lama tinggal di rantau dan berkomentar, "Wah, betah ya di sana? Gajinya besar, sih!" Atau di sisi lain, saat bertemu dengan sesama penduduk Prancis, ada saja yang berkomentar, "Memang enak di sini, ada banyak tunjangan!" Kedua komentar tidak salah. Tapi tak sepenuhnya benar. Penting dicatat bahwa tulisan ini berdasarkan pengalaman pribadi sebagai imigran biasa, bukan pelajar, PMI, atau ekspatriat yang mendapatkan fasilitas dari perusahaan/instansi. Gaji Besar, Biaya Hidup juga Besar! Orang suka lupa. Suka keblinger dengan nominal angka. Gaji di Eropa, jelas lebih besar ketimbang di Indonesia. Tapi ingat: biaya hidupnya juga setara, yaaa! Saya ingat saat pertama kali datang ke Prancis 25 tahun yang lalu. Gaji masih UMR. UMR Prancis, tentunya ya. Saya lupa saat itu berapa. Saat ini sih UMR kotor 1.801,80 euros. Silakan dirupiahkan sendiri....
Mati listrik panjang 24 Mei 2025 yang lalu meninggalkan kesan yang dalam. Tentu saja itu bukan satu-satunya kejadian mati lampu di daerah kami. Namun itulah yang terpanjang. Pemadaman listrik sering terjadi di musim panas, terutama disebabkan oleh kebakaran hutan. Ada pemadaman sebagai akibat langsung kebakaran karena api yang merambah kabel atau bahkan sentra listrik, ada pula pemadaman preventif untuk menghindari penjalaran api. Pemadaman listrik yang sebelum itu kami alami hanya berdurasi menit. Seingat saya belum pernah sampai melampaui jam. Dan tentu, belum pernah sampai memutus saluran internet dan bahkan seluler segala seperti Sabtu itu. Seperti yang sempat saya ceritakan , kekhawatiran terbesar saya terletak pada jalur komunikasi yang terputus. Padahal kami sebenarnya tak bisa dimasukkan dalam golongan yang intensif berkontak dengan keluarga di Indonesia ataupun Ucok di rantau. Namun jelas, kami (saya, paksu, dan Butet) tidak merasa terlalu terganggu atas ketiadaan internet. Pa...
Comments
Post a Comment