Hari ini, kuncitara ke dua di Prancis dibuka. Dan pemerintah menyarankan karantina mandiri selama seminggu untuk mereka yang ingin berkumpul merayakan Natal bersama keluarga... 🙄
Pagi tadi, buka Facebook, diingatkan posting 8 tahun lalu berupa video Butet membaca buku yang ditulisnya sendiri. Digambar, lebih tepatnya. Umurnya baru 4 taun 2 bulan. Belum bisa baca-tulis selain namanya sendiri. Tapi dari rekaman pembacaannya , ada cerita yang cukup terstruktur, meski belum secara bahasa. Terlihat dari judulnya saja dia masih belum bisa menentukan apakah Fée tombé (tapi tidak ada adegan si peri jatuh) atau Fait tomber (tanpa subjek dan objek?), yang memang sama secara pengucapan... Saya sendiri sudah lupa konteks mengapa Butet menyusun buku itu. Saya hanya ingat bahwa sebenarnya ini bukan "buku" pertama yang disusunnya. Tapi ini yang pertama dengan cerita dan tentu yang sempat terekam videonya... Terdengar dia sempat terbatuk di tengah rekaman. Sedang sakit kah?... Melihat suvenir-suvenir seperti ini, membuat saya menyesal kenapa tidak mencatatnya lebih detil... Padahal sebenarnya saya sudah ngeblog sejak taun 2004. Saat itu anak sulung saya baru 3 tau...
Akhirnya Rabu sore ini saya memilih absen ke kursus bahasa Jepang lagi. Saya absen tadarus dan menyimak kajian Rabu pagi sambil baringan. Makan siang pun kembali memanfaatkan layanan pesan antar. Rasanya terlalu maksa kalau saya malah tetap pergi kursus. Meski sudah jauh lebih enak, nafas saya masih berat. Badan masih lekas lelah. Narasi kyō, musume ga ie ni kaerimashita dari Rabu lalu yang sudah saya siapkan adaptasinya dengan mengganti kyō menjadi senshū no suiyōbi pun batal saya presentasikan. Cukup berat untuk absen lagi. Mengingat bahwa Rabu ini merupakan kursus terakhir sebelum masuk periode libur musim semi selama dua minggu ke depan. Total, saya tidak kursus 4 minggu berturut-turut sebelum masuk lagi 29 April nanti. Insya Allah. Semoga sehat, aamiin. Sambil memasak ayam oven untuk makan malam, saya membuka-buka bahan pelajaran sebelumnya. Bukan, bukan untuk belajar. Saya ingin menyusun kertas-kertas fotokopian dan catatan yang masih lepas ke dalam binde...
Sebelum liburan ke Indonesia, kami suka mencatat agenda apa saja yang ingin kami lakukan berempat. Kuliner adalah salah satunya. Dan satu kesepakatan hakiki adalah menyantap hidangan kambing di Solo! Ya, di Solo! Bukan hanya karena saya orang Solo nih ya. Namun kami berempat setuju bahwa belum menemukan kota lain yang masakan kambingnya lebih enak, atau bahkan sama enaknya dari yang ada di Solo! Apa yang bisa lebih dipercaya dari lidah anak-anak? Apalagi yang lahir dan besar di rantau, coba? Dari rumah makan kambing terkenal, hingga warung-warung kecil pinggir jalan, semua enak. Seluruh Soloraya. Hmmm... mungkin berlebihan sih ya. Kan jelas saya dengan kriteria kebersihan yang pada dasarnya sudah akut apalagi didukung anak-anak belum pernah mencoba semua tempat makan hidangan kambing. Disclaimer dulu: hampir semua foto masakan kambing yang ada di tulisan ini berasal dari aplikasi GoFood. Saya memilih mengambil ilustrasi dari Sate Kambing Pak Bunder , warung sate yang berlokasi t...
Comments
Post a Comment