Ramadan 1446 H: Hari 18

Hari ini sungguh menegangkan!

Saya sudah berniat mengumumkan periode proofreading untuk e-book MGN hari ini. Saya perkirakan jam 10CET. Nafas dikit dari deadline tantangan Maret yang jatuh pada jam 15WIB. Dan saya berniat belanja ke boucherie halal di kota juga seusai mengantar Butet yang hari ini baru mulai jam 9 pagi.

Saya sampai rumah jam 9.30. Beres-beres belanjaan sambil menunggu desktop menyala. Hari ini Butet kembali membawa laptop ke sekolah. Niatnya untuk mengerjakan film animasi pendek untuk klub ekologinya di jam makan siang. Niat gagal karena dia lupa membawa kabel dan baru menyadarinya di jam makan siang itu.

Tugas saya untuk e-book MGN adalah membuat template, mengompilasi naskah, dan mengeditnya. Saya tidak sendiri. Masing-masing bagian itu ada yang membantu. Sampul dan layout (pemilihan font, variasi ukuran, warna, ...) sudah ada ahlinya.

Sampai saat ini, layout masih belum final. Masih coba-coba. Masih dalam proses kreatif lah! Warna background dokumen pun masih belang-belang karena ada setting yang belum pas.

Karena sudah mau menyebar draft untuk proofreading, saya iseng mencoba mengganti warna latarnya. Sepertinya bisa. Coba menghilangkan belang di sana-sini, ah kok gagal? Undo. Coba lagi, oh, hasilnya tak sama. Undo. Beberapa kali, sampai akhirnya saat saya undo, dokumen gagal load dan hanya menampakkan satu foto saja!

Jelas saya panik. Saya coba redo. Tak berhasil. Padahal terlihat dokumen masih panjang ke atas dan ke bawah. Tapi mengapa tak muncul apa-apa?

Lekas saya kirim pada rekan desainer dan rekan penyunting. Mengabarkan kalau ada masalah dengan draft, tetapi saya sudah sempat membuat copy sebelumnya. Dan saya lekas verifikasi copy karena waktu sudah makin mendekati target saya. 

Rekan desainer membalas pesan saya tak berapa lama. Dia mengusulkan untuk restore file-nya. Eh, bisa ya? Tak terpikir sama sekali oleh saya. Rekan saya menunjukkan caranya. saya bilang bahwa saya yang mencobanya. Harus disepakati agar tidak konflik, kan!?

Namun ternyata saya tak berhasil. Sepertinya desktop kami terlalu tua untuk menanggung file yang sebenarnya hanya 20-an Mb. Saya coba dua kali sebelum menyerah dan meminta rekan saya untuk mencobanya. Dan berhasil!

Lega sekali karena saya melihat bahwa copy saya bukan versi terakhir draft. Copy saya dibuat Senin siang padahal saya banyak mengedit malamnya. Lekas saya buat copy lagi, mengedit, lalu membuat copy baru lagi. Tak lupa mengabarkan ke rekan penyunting akan keberhasilan restore dan keterlambatan pengumuman. Dia mengingatkan saya "biar lambat asal selamat".

Akhirnya proofread baru bisa saya umumkan jam setengah 8-an malam WIB. Yah, sekalian biar pada baca seusai tarawih lah ya. Atau besok pagi saat sahur. Sebelum muncul pengumuman voting tantangan blogging bulanan.

Baru menghela nafas, datang pesan yang mengatakan "Lha ini kok aku bisa edit draftnya?". Panik datang lagi. Cek-cek setting sudah benar share-nya: selain 2 kontributor, yang memiliki link hanya bisa meninggalkan komentar. Sempat coba ganti link. Tapi link-nya sama tuh?

Agak lama baru sadar kalau ternyata memang hanya suggestion saja, bukan edit file. Terbukti bahwa panik belum benar-benar reda: jadi belum bisa berpikir jernih.

Saat ini Tim E-book menunggu hasil proofreading yang dijadwalkan sampai hari Minggu. Tidak akan ada perpanjangan. Kalau tak mengirim komentar atau koreksi, berarti dianggap setuju.

Tahap proofreading ini sendiri memang dibuat cepat untuk mengejar waktu sebelum masuk periode libur Lebaran di Indonesia. Saya yang tak ada libur Lebaran dan tak berencana mudik--karena memang tak mungkin--bisa melanjutkan penyuntingan sesudah itu, sebelum kemudian finalisasi seusai libur Lebaran bersama seluruh Tim E-book.

---

Saat buka puasa tadi, saya mendapati berita mengenai terjadinya gempa bumi di daerah kami pada pukul 18.45CET. Saat itu saya sedang sibuk di dapur. Mondar-mandir menyiapkan buka. Saya tak merasakannya.

Saat saya kabarkan ke Butet, dia berseru bahwa memang dia merasakannya. Namun dia ragu karena pada dasarnya sedang capek. Takut salah persepsi.

Memang gempa skala 4,1 richter tadi hanya berlangsung selama 2 detik. Kabarnya disertai gemuruh. Nah, yang itu sepertinya saya mendengarnya. Tapi saya pikir suara kendaraan di luar saja yang memang sering terdengar. Butet pun berpikir demikian.

Diberitakan ada dua gempa susulan dengan kekuatan lebih kecil. Sampai saat ini tidak ada berita adanya kerusakan akibat gempa. Semoga semua aman-aman saja.

---

Malam ini menu kami adalah bebek madu yang saya beli di boucherie tadi pagi, ditemani balado terong dan ... ya, nasi kuning! Bebeknya sepertinya tak akan cukup buat sahur. Paling saya akan menambahkan telur. Entah ceplok, entah dadar. Kita lihat saja besok.


Comments

  1. Replies
    1. You too 🤗 Benernya nggak ada apa-apanyakl dibanding di Jepang ya!? Tapi karena jarang pake banget, yg kyk gini ini bikin khawatir. Semoga semua aman2 selalu 🙏

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Menengok Ketentuan Pemberian Nama Anak di Prancis

Perjalanan Bela Bangsa

Blogger Curcoler? Yes!