Ramadan 1446 H: Hari 14
Tahap pemilihan jurusan untuk pendaftaran perguruan tinggi di platform Parcoursup berakhir semalam. Sekarang masuk ke tahap finalisasi berkas. CV, surat motivasi, portofolio, pembayaran uang pendaftaran, ... bagi sekolah yang mensyaratkannya. Beberapa sekolah tak memerlukan apa-apa selain isian wajib di platform Parcoursup. Nilai rapor sudah diurus oleh lycée masing-masing.
Butet mengisi penuh kesempatan memilih 10 perguruan tinggi: 5 ENSA, 1 ENSA khusus tahun pertama yang kuliahnya digabung dengan ESAD, 1 polytech dengan entah berapa sous-voeux, 1 prepa MPSI, 1 prepa PCSI, dan 1 licence cinema. Maaf, saya tak jabarkan masing-masing karena penjelasannya bisa sangat panjang. Mungkin lain waktu ... kalau ada semangat.
Lho?
Masalahnya, Butet sendiri, setelah diterima di MoPA jadi tak semangat mengikuti prosedur Parcoursup. Pilihannya ke animasi makin mantap. Arsitektur pun sudah tak menariknya lagi.
Butet berniat untuk tidak melengkapi berkas-berkas sebagian besar pilihan Parcoursup-nya. Saya sendiri sempat menyarankan demikian, dengan syarat diterima di MoPA. Karena saya tahu pasti bahwa école ingenieur tidak menarik minatnya. Tapi saat itu, saya masih berharap Butet akan meletakkan ENSA di atas MoPA. Eh? Hehehe.
Kedua prépa dipilih sebagai pilihan aman. Jaringan Polytech secara teori juga aman, tapi sekolah menganggap masih cukup selektif. Karenanya Butet memasukkan prépa yang diselenggarakan oleh yayasan sekolahnya itu.
Jurusan perfilman yang dipilih Butet pun sebenarnya termasuk yang susah masuknya. Tak ada ujian atau prasyarat spesifik, tetapi banyak saingan peminat. Memang tak ada banyak juga universitas yang menawarkannya di Prancis. Namun itu satu-satunya jurusan di universitas yang menarik untuk Butet.
Saya menyarankan Butet menjaga pilihan ENSA yang masih menariknya waktu itu. ENSA yang saat itu masih diprioritaskan di atas MoPA. Namun ternyata seiring waktu, ketertarikannya pada Arsitektur memudar. Kemantapannya pada bidang animasi makin kuat.
Mengapa animasi?
Itu pertanyaan yang diajukan Yangkungnya saat saya mengabarkan keberhasilan Butet masuk MoPA. Dan saya pun bingung menjawabnya! Hahaha.
Butet suka menggambar. Butet juga suka. Mungkin itu jawaban yang paling tepat. Animasi menggabungkan dua minatnya dalam satu bidang.
Karena kesukaannya pada menggambar itulah saya dan Paksu menyarankannya ke arsitektur. Butet kan kuat di matematika juga. Awalnya tertarik, bahkan antusias. Sudah sempat membeli buku segala. Lama-kelamaan, makin mendalami informasi mengenai pendidikan arsitektur, minatnya jadi meluntur.
Saya pernah menulis soal bagaimana minat Butet searah dengan minat saya saat SMA. Sebelum Teknik Informatika, saya ingin mempelajari arsitektur.
Saya sendiri dulu, salah satu alasan masuk ke Teknik Informatika adalah keinginan untuk bisa membuat film animasi seperti Toy Story. Zaman saya lulus SMA, satu-satunya jalan ke animasi—di luar bakat seni gambar—adalah dari teknologi informatikanya. Belum ada banyak software gambar saat itu. Yang ada pun masih dalam masa pengembangan. Berbeda dengan sekarang yang sudah sangat beragam.
Sekolah animasi, dalam hal ini terutama untuk 3D, belum ada saat saya lulus SMA. Apalagi di Indonesia. Kalau sekarang, ada banyak sekali pilihan. Terutama di Prancis yang jadi negara referensi untuk sekolah animasi.
Tapi lain kali saja cerita lagi. Saya sudah mengantuk sekali.
Hari ini saya jalan kaki ke perpustakaan kota kami untuk mengambil buku. 1 km, nanjak! Pelan-pelan saja agar tak lekas lelah. Dari sana saya langsung mengambil bus ke pusat kota Cannes. Dapat bus panjang! Yes!
Di kota saya mencari alat tulis di swalayan untuk Butet, lalu ke boucherie. Saya membeli paha ayam yang saya masak untuk buka hari ini. Juga sahur besok pagi. Ditemani dengan nasi kuning permintaan Butet.
Comments
Post a Comment