Ramadan 1446 H: Hari 21

Memasuki 10 hari terakhir Ramadan. Atau 9?

Ada keinginan Ramadan 29 hari saja. Alasan praktis: pengen bisa salat Id. Kalau tak jatuh di akhir pekan, susah untuk kami melaksanakannya. Tak ada libur Lebaran di Prancis. Suami kerja, dan Butet sedang masa banyak evaluasi.

Di sisi lain rasanya pengen Ramadan lebih lama. Ibadah masih minimalis. Pengen dikasih kesempatan lebih panjang. Tapi ya jelas nggak mungkin lebih dari 30 hari lah ya. 

Satu-satunya jalan ya harus bisa memaksimalkan di 10 hari terakhir ini. Sejauh kemampuan. Dan niat pun, sudah tercatat kan ya? Eh? Hehehe.

Hasilnya? Saya tertidur, praktis sepanjang pagi: sejak Paksu mulai kerja, hingga terbangun oleh alarm Zuhur! Hadeuh!

Sepertinya memang saya sudah lelah sekali setelah 20 hari kurang tidur. Plus minggu ini ada dua hari yang menegangkan: Selasa dan Kamis. Hari ini badan minta diistirahatkan. Dan tidur pun termasuk ibadah kan, di bulan Ramadan? Haish, ngeles teruuus! Hihihi.

Masuk tanggal 21, saatnya memikirkan zakat fitrah. Kebetulan sekali seorang sahabat menanyakan ke saya kemarin, berapa besaran zakat tahun ini.

Beberapa waktu yang lalu, Masjid Agung Iqraa di Cannes la Bocca mengumumkan bahwa zakat sebesar 8 euro. Sebelumnya, Masjid Agung Paris mengumumkan 7 euro. Sahabat saya mengatakan bahwa di Secours Islamique, tempat kami biasa menyalurkan zakat, mematok di 9 euro.

Sayang sekali, sampai saat menulis ini, saya tak menemukan jejak pembayaran zakat tahun lalu. Saya konfirmasi pake email apa ya? Heu, malah nanya!

Namun saya sempat mencatat di Instagram. Tahun lalu, besaran zakat sama, kecuali untuk Masjid Cannes yang ternyata malah turun dari yang sebelumnya 9 euro!

Kemungkinan besar kami akan membayar zakat fitrah melalui Secours Islamique lagi. Praktis, tak perlu keluar rumah. Tak perlu mencari jam kerja amil zakat di masjid yang tak sebebas di Indonesia. Tapi siapa tahu jadi rajin, kita lihat saja.

---

Hari ini saya memasak tongseng kambing. Saya memasaknya agak siangan. Pasalnya, saya ada "janjian" telepon dengan seorang kawan. Dia tinggal di Amerika. Sempat mengontak pagi saat saya sedang menyiapkan sahur. Saya bilang nanti saja, sesudah dia selesai dengan kesibukan paginya. Karena saya tahu di sana sudah malam.

Saat saya selesai dengan kesibukan pagi saya sendiri, saya baru tersadar bahwa perbedaan waktu kami yang 8 jam sungguhlah merepotkan. Sepanjang siang saya adalah waktu tidur malamnya. Karena itulah saya tidur pagi. Eh? Nggak deng. Itu mah benar-benar tidak disengaja.

Saya hitung-hitung, kalau dia sudah selesai mengantar anak sekolah sekitar jam 9-an (waktu itu saya belum tahu anaknya mulai sekolah jam berapa), berarti di saya sesudah jam 3 sore. Saya baru mulai memasak menjelang jam 4. Dan benar saja, kawan saya menelepon menjelang jam 5!

Kami belum pernah bertemu. Kami hanya berkenalan di salah satu komunitas online. Namun kami asyik saja berbagi pengalaman menjadi Mamah Rantau (sepertinya saya akan banyak menggunakan istilah yang saya dapat dari kawan lain dalam komentarnya di tulisan saya mengenai bertahan menjadi perantau ini). Sempat terpotong saat saya membukakan pintu untuk Butet yang pulang sekolah, lalu sambung lagi. Tak terasa satu jam lebih kami berbincang. Mengayakan untuk saya, dan semoga bermanfaat juga untuknya.

Untuk sahur besok masih ada sisa tongseng. Padahal saya kepengin nasi goreng. Lah? Hehehe.


Comments

Popular posts from this blog

Menengok Ketentuan Pemberian Nama Anak di Prancis

Perjalanan Bela Bangsa

Blogger Curcoler? Yes!