Ramadan 1446 H: Hari 20
Musim semi datang hari ini. Hari ini adalah hari yang menegangkan lagi. Tapi untuk alasan yang berbeda.
Hari ini adalah jadwal pengumuman seleksi tahap pertama sekolah animasi pilihan utama Butet. Saya sudah berpikir untuk tidak usah masuk kursus bahasa Jepang saja. Pengumuman dijadwalkan mulai jam 18, pas saat saya harus berangkat untun kursus jam 18.15. Tapi Butet menolak.
Tidak ada gunanya, katanya. Namun meski dia berkali-kali mengungkapkan kepesimisan, saya yakin dia tetap berharap. Dan saya terus mengarahkannya untuk optimis. Apalagi bulan Ramadan begini. Ucapan kita adalah doa, kan!?
Memang pilihan utama Butet ini berat juga. Sekolah animasi nomor 1 di dunia! Meski sudah mengikuti kelas bimbingan di dalamnya, tak ada yang menjamin akan diterima. Dan bahkan, karena mengikuti bimbingan itu, Butet kadi melihat kapasitas teman-temannya, yang juga merupakan saingannya!
Saya besarkan hati Butet. Bukan hanya karena sekolah sendiri yang menyatakan bahwa seleksi tidak hanya bedasar bakat menggambar. Seleksi dilakukan atas berbagai aspek. Salah satunya adalah perkembangan kemampuan menggambar kandidat. Karena itu ada prasyarat mengunggah 100 post Tumblr. Agar ketekunan dan peningkatan teknik para kandidat bisa terlihat.
Selain itu saya ingatkan Butet bahwa film animasi bukan hanya gambar. Ada sisi cerita di mana dia cukup bagus. Ada sisi teknik (memodelkan struktur, gerakan, ...) dalam pembangunan karakter di mana dia bisa berpartisipasi dengan dasar ilmu sains yang dia miliki.
Butet sendiri melihat beberapa teman sebimbingannya yang memutuskan untuk tidak mendaftar di sekolah nomor 1 ini. Beberapa merasa tak mampu memenuhi syarat 100 post itu. Ada beberapa lagi yang merasa keberatan dari sisi biaya. Memang selain mahal tarif per tahunnya, harus dipikirkan mengenai tempat tinggal dan biaya hidup di Paris yang tinggi.
Tentu saja, kami tetap berjaga. Karena itulah sudah mengamankan posisi di MoPa. Butet juga masih mengikuti prosedur Parcoursup, meski tak yakin akan bisa mengalahkan minatnya pada MoPA yang sudah terpegang.
Dan ... Butet tak lolos ke tahap wawancara! Dia belum sampai rumah saat saya berangkat kursus. Tentu saja saya tak bisa konsentrasi sepenuhnya sepanjang kursus. Ada banyak sekali pertanyaan: siapa saja di antara temannya yang diterima, siapa yang tidak, ... dan tentunya bagaimana perasaannya.
Tapi toh Butet juga ada bimbingan online yang masih tetap diikutinya. Saat saya pulang, bimbingannya belum selesai.
Sambil menyimak—dia online di meja kerja saya—dia melontarkan beberapa komentar: si A diterima, heran kenapa si B ditolak, ... Saya lihat Butet menerimanya dengan terbuka. Sadar diri akan kapasitasnya. Kalau ada keberatan, itu karena ada beberapa teman sekelasnya yang diterima, sedangkan ada beberapa yang lain yang dirasanya kemampuannya lebih tinggi malah ditolak.
Yah, begitulah dunia seni. Tak ada parameter yang jelas. Bisa jadi mereka diseleksi oleh juri yang berbeda, dengan standar yang berbeda.
Tak perlu berlama-lama memikirkannya. Sekarang lihat ke depan. Masih ada seleksi ke sekolah animasi nomer 2 di Prancis yang harus disiapkan. Masih ada Parcoursup yang harus diselesaikan berkasnya. Dan sudah ada MoPA yang jadi pegangan. Mungkin tahun depan mencoba lagi untuk bachelor-nya?
Semoga dengan terlampauinya tahap ini jadi awal bagi kelanjutan yang menyenangkan untuk Butet. Aamiin.
Comments
Post a Comment