Ramadan 1446 H: Hari 2

Saat ke Paris dua minggu yang lalu, saya langsung teringat pada perjalanan di tahun 2020. Tahun ini adalah kedua kalinya kami bepergian di saat libur sekolah musim dingin. Kebetulan dua-duanya ke Paris. Biasanya kami lebih memilih jalan-jalan di musim semi. Atau musim panas. Terutama kalau ke Indonesia, mengingat durasi libur sekolah yang lebih panjang.

Saya sempat mencoba mengingat, apakah dua perjalanan kami itu di tanggal yang sama. Terpikir mau mencari arsipnya, tapi kemudian terlupa. Baru teringat lagi saat pagi tadi menemukan Souvenir Facebook di mana saya menulis singkat tentang perjalanan yang sangat seru itu.

Setelah membacanya, saya langsung mencari arsip di blog ini. Baru saya sadari bahwa memang saya tak mencatatnya di saat-saat bepergian itu. Saya baru menuliskannya satu tahun sesudahnya (ternyata tanggalnya tidak sama dengan perjalanan tahun ini). Yah, lumayan lah, daripada tak terdokumentasikan sama sekali. Karena itu adalah perjalanan yang sangat penting dalam tahapan kehidupan keluarga kami.

Tak terasa, lima tahun sudah berlalu sejak rencana kepindahan kami ke Paris. Lima tahun pula berdebar, berharap, bertanya-tanya, apakah tiba saatnya kami harus meninggalkan apartemen yang sudah kami tinggali selama 20 tahun terakhir ini. 

Hanya tahun lalu kami agak tenang. Tepatnya berusaha tenang. Berusaha teguh, memantapkan hati untuk tak memikirkan pindah karena memikirkan kenyamanan pendidikan Butet yang sudah kelas 3 SMA. 

Dan pertanyaan yang berulang datang setiap awal tahun itu kembali datang tahun ini!

Kalau selama ini Butet menjadi alasan terpenting untuk tidak pindah, kali ini Butet menjadi pendorong terbesar untuk pindah. Dengan syarat. Ya, ada syaratnya!

Syaratnya adalah bahwa Butet diterima di perguruan tinggi idamannya, yang kebetulan berada di Paris!

Bagaimana kalau Butet tak diterima di perguruan tinggi idamannya itu?

Tergantung bagaimana dengan kantor suami yang tiap awal tahun meminta karyawannya kembali back to office: apakah masih longgar, atau bakal benar-benar mewajibkan. Kalau longgar, kemungkinan besar kami tak pindah. Bagaimanapun juga, pindah itu ribet, kan!? Tapi kalau memang wajib, ya saya dan suami pindah mendekat ke kantor.

Pindah kali ini akan jauh lebih mudah. Kami tak perlu lagi mencari tempat tinggal di daerah yang memiliki sekolah yang bagus dan cocok (sesuai dengan jurusan, spesialisasi dan opsi yang dipilih) untuk Butet. Pindah kali ini lebih bebas karena perguruan tinggi tak terlalu tergantung sektorisasi tempat tinggal. Kalaupun tergantung, yang tercatat adalah tempat tinggal kami saat ini. Jadi ya ... Itu penjelasannya panjang! 

Butet sendiri menyatakan siap kalau harus tinggal terpisah dari kami. Memang ada saatnya ya, melepas anak dari sarang orang tua. Tapi saya masih berharap semoga kami pindah dan Butet tinggal bersama kami. Dalam artian Butet diterima di perguruan tinggi idamannya! Hehehe. Aamiin.

Puasa hari kedua kami lancar. Kami sahur dengan sup daging sapi lagi. Buka langsung makan besar dengan menu yang tertunda kemarin: bebek madu.

Sebelum Magrib, Paksu jalan sore. Pulangnya dia membeli croissant dari toko roti Ukraina yang baru dibuka beberapa waktu yang lalu di pusat kota. Croissant besar isi krim dan buah, yang kami jadikan dessert. Carang gesing buatan saya disimpan dulu di kulkas, sekalian menunggu benar-benar dingin.

Hari ini saya dan Butet di rumah saja. Butet mengejar kelengkapan portofolio untuk seleksi sekolah animasi idamannya. Di jeda istirahatnya, kami sempatkan menonton Le Roi et l'Oiseau, film animasi pertama buatan Prancis, di platform perpustakaan daerah.

Ya, perpustakaan daerah kami ternyata memiliki koleksi VOD yang menarik sekali. Saya ketinggalan informasi. Sepertinya, saya perlu menceritakannya dengan panjang-lebar lain kali.


Comments

Popular posts from this blog

Menengok Ketentuan Pemberian Nama Anak di Prancis

Perjalanan Bela Bangsa

Blogger Curcoler? Yes!