Ramadan 1446 H: Hari 8

Saat saya mulai menulis ini, waktu sudah menunjukkan jam 10 malam lebih. Hari ini padat sekali sejak pagi. Baru bisa mengetik, itupun tak yakin apakah bisa tuntas selesai sebelum hari berganti.

Sudah sejak beberapa waktu kami berencana menonton film Mickey 17 di bioskop. Sejak kami melihat iklannya saat sedang di Paris akhir Februari lalu. Bukan untuk Robert Pattinson, tapi untuk Bong Joon Ho.

Sutradara Korea itu masuk dalam salah satu yang direkomendasikan untuk ditonton karyanya oleh guru kelas bimbingan Butet. Saya sendiri sudah mengajak Butet menonton Parasite. Dan terlaksana semingguan yang lalu.

Kalau Butet tertarik menonton Parasite, itu bukan hanya karena sutradaranya atau prestasi filmnya sendiri. Salah satu yang mendukung menariknya menonton adalah Choi Woo-shik, aktor yang pernah ditontonnya sebelumnya di My Beloved Summer, dan belum lama kami selesaikan drama terbarunya, Melo Movie.

Butet menyukai Parasite. Karena itu, dia ingin menonton Mickey 17. Terlebih bahwa film ini direkomendasikan untuk ditonton dalam versi Imax. Sudah lama kami ingin mencoba ruangan Imax di Cineum, bioskop terbesar di Cannes.

Lorong menuju ruang Imax dengan toilet terpisah sendiri

Kami memesan tiketnya kemarin. Butet ingin memilih tempat duduk yang sekira nyaman. Kali ini papanya ikut. Paksu belum pernah ke Cineum sama sekali.

Kami menonton film dengan jadwal jam 10.15 pagi. Bukan untuk mencari tiket murah, tapi lebih karena takut kalau siang terlanjur lemas dan malas keluar rumah. Tambahan, Sabtu malam ini ada pertandingan sepak bola di stadiun yang terletak di dekat bioskop. 

Selain itu, kami mencari film VO, tentunya. Versi berbahasa Inggris, dengan takarir bahasa Prancis. Tak banyak jadwal VO di ruangan Imax. Kami tak mau mengambil resiko menunggu akhir pekan depan, yang jadwalnya biasanya baru muncul Selasa. Takut tak ada pemutaran VO lagi. 

Pada kenyataannya film baru dimulai 15 menit sesudahnya. Ruangan berkapasitas 513 tempat duduk itu terlihat sepi. Mungkin hanya 5 lajur yang terlihat ada penghuninya. Itupun hanya 2-3 di masing-masingnya. Hanya baris belakang kami yang agak banyakan. 

Selesai menonton, kami bertanya-tanya: apakah perlu, menayangkan film Mickey 17 dalam ruang Imax? Layar yang disebutkan lebih luas dari lapangan tenis itu memang mengagumkan. Meski saya tetap saja tak bisa membaca takarir tanpa kacamata. Hahaha. Namun filmnya sendiri tak berwarna-warni. Pemandangannya pun cenderung suram, tidak mengundah "wah" atau "wow". Rasanya seperti menyia-nyiakan teknologi saja.

Dari segi suara juga saya tak menangkap yang istimewa di film ini. Beberapa kali agak gagap karena ada suara dari speaker di arah kanan atau kiri. Tidak yakin apa benar-benar datang dari filmnya. Hahaha. Dasar ketinggalan zaman, ya, saya!?

Kami keluar dari bioskop dengan perasaan kurang puas. Akhir ceritanya kurang mantap. Mungkin karena mengikuti buku karya Edward Ashton yang menginspirasinya? Saya belum mencari informasi lebih lanjut. Karena itu juga belum berani menulis reviu.

Film selesai menjelang jam 1 siang, kami baru sampai rumah jam 3 lebih. Kami menyempatkan ke Cultura—di mana saya membeli buku untuk Club Lecture bulan Maret dan Butet membelanjakan jatah Pass Culture 16 tahunnya untuk membeli buku tentang film Cinderella—dan ke Decathlon—di mana Paksu membeli sepatu lari.

Saya dan Butet ngabuburit dengan menonton 1,5 episode drakor When Life Gives You Tangerines yang dibintangi dua artis favorit saya IU yang juga merupakan idola Butet dan Park Bo-geum, salah satu aktor Korea favorit saya. Kok 1,5? Karena menonton sambil harus terpotong waktu untuk memasak! Hehehe.

Kami melanjutkan menonton lagi malamnya, menghabiskan keempat episode yang tayang Jumat kemarin ini. Wah, harus menunggu Jumat depan untuk lanjutannya. Penasaran juga dengan drama yang penuh tangis, tapi kami menontonnya dengan tertawa-tawa itu.

Saat saya menulis ini, waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Tentu saja saya tak menulis selama 2 jam. Terpotong menonton 1,5 episode drakor. Eh? 1,5 lagi? Lebih tepatnya, saya yang memulai menulis di sela menonton drakor.

Lumayan lah. Paling tidak saya bisa menyelesaikan tulisan ini sebelum hari berganti. Semoga lain waktu sempat membuat reviu film yang kami tonton hari ini. Drakornya? Tunggu final dulu laaah!

---

Menu kami hari ini sayap ayam madu ditemani pecel bayam-wortel. Masih belum punya tauge juga!


Comments

Popular posts from this blog

Menengok Ketentuan Pemberian Nama Anak di Prancis

Perjalanan Bela Bangsa

Blogger Curcoler? Yes!